Perjalanan Cinta 2 Budaya Berbeda Tak Bisa Dipaksa di Film Molulo

Layarkaca21 – Pernah dengan perjodohan cinta 2 budaya di indonesia khsusnya di daerah sulawesi, nah cerita itu tersaji dalam film molulo.

Romatika pasangan berbeda beda yaitu budaya makassar dan budaya kendari, digarap dalam sebuah film berjudul Molulo: Jodoh Tak Bisa Dipaksa.

Perjodohan selalu memberikan efek dramatis yang membekas.

Sebagian gagal namun tidak sedikit juga yang berhasil dan bertahan hingga waktu yang lama.

Drama perjodohan ini bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda melalui film Molulo: Jodoh Tak Bisa Dipaksa.

Sinopsis Molulo Film Jodoh Tak Bisa Dipaksa

Perjalanan Cinta 2 Budaya Berbeda Tak Bisa Dipaksa di Film Molulo

Film ini melibatkan cerita yang tak biasa dengan alur yang sangat berbeda.

Romantika remaja, drama yang melibatkan banyak orang, komedi satir atau sindiran hingga petualangan cinta yang tak biasa menjadi bumbu utama dari film ini.

Cerita ini memuat seorang laki-laki bugis yang berasal dari Makassar dan akan dijodohkan dengan orang tuanya.

Calon jodoh dari laki-laki itu sudah dipersiapkan dengan sangat matang.

Pertimbangan juga sudah dilakukan dengan memperhatikan seluruh latar belakang dari keluarga.

Namun, tetap saja si lelaki harus mencari jodohnya sendiri sesuai dengan keinginannya.

Pemberontakan lelaki terus dilakukan hingga dirinya kabur ke Kendari (salah satu kota yang ada di Sulawesi) dan bertemu dengan seorang perempuan yang membuat dirinya jatuh hati.

Baca Juga :  Perjalanan Sancaka di Film Gundala Gambaran Negeri Masa Depan

Momen pertemuan itu terjadi pada saat acara Molulo sedang berlangsung.

Latar Belakang Masalah Film Kisah Cinta

Film ini memang memadukan pengenalaan tradisi yang sudah berlangsung sejak dahulu di Sulawesi Tenggara.

Molulo adalah salah satu bagian dari kesenian tradisional berupa tari yang berasal dari Sulawesi.

Film ini juga mengangkat filosofi dari tarian Lulo yang mengandung arti persahabatan.

Namun, kini tarian tradisional ini juga menjadi ajang bagi seluruh pemuda-pemudi yang berasal dari suku Tolaki untuk mendapatkan kenalan hingga jodoh.

Tidak sedikit juga orang-orang yang ikut dalam tradisi ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan yang lebih baik.

Gerakan dari tarian ini dilakukan dengan posisi tangan yang saling bergandengan satu dengan lainnya.

Kondisi ini yang dimanfaatkan Acho dan Musdalifah untuk memulai perjalanan kasih mereka.

Ada banyak pesan moral yang sebenarnya bisa diambil melalui dialog-dialog kecil mereka.

Ada banyak tawa dan haru yang dibalut dengan tradisi luar biasa.

Bahkan, seluruh bagian dari keindahan Sulawesi bisa dilihat dengan sentuhan sinematografi yang sangat mengesankan.

Satu pesan moral yang bisa dilihat adalah jodoh tidak bisa dipaksakan namun tetap harus dicari.

You May Also Like

About the Author: Yayan Mulyana

Hobi saya menonton film dan bermain game, namun ketika saya sangat gabut, pada saat itu juga saya mulai mengetik dan menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *